MERAYAKAN PI

Perayaan tidak selalu harus tersaji dengan kemeriahan dan suasana gempita. Merayakan secara sederhana, sambil merenungkan kehadirannya sudah mewakili kepedulian kita pada yang dirayakan. Semacam sense of belonging (rasa memiliki). Tidak mungkin kita peduli jika rasa memiliki tidak ada dalam hati dan pikiran kita.

Banyak cara merayakan peristiwa. Bahkan, hanya dengan membuat tulisan juga merupakan cara merayakan. Oleh karenanya, tulisan ini lahir sebagai tindakan sadar merayakan peristiwa yang dirayakan.

Adalah pi. Sebuah bilangan transenden. Sebuah bilangan irasional. Menyebut pi sebagai 3,14 adalah cara yang kurang pas untuk memperlakukannya sebagai bilangan irasional. Seharusnya, Pythagoras menolak pi yang irasional sebagaimana ia menolak akar dua dan menghukum mati Hipasus, anak didiknya. Namun, tampaknya tidak ada yang menyadari bahwa pi adalah irasional termasuk Pythagoras sendiri sehingga pi dan penggagasnya lolos dari kekejian akademik.

Kesadaran yang datang terlambat ini menjadikan Johann Heinrich Lambert sebagai manusia pertama yang mengerti pi sebagai bilangan irasional. Peristiwanya terjadi pada suatu malam di tahun 1761. Lebih dari seabad kemudian Ferdinand Lindemann menorehkan bukti yang meyakinkan bahwa pi adalah bilangan tarnsenden. Peristiwanya juga terjadi pada malam hari, di tahun 1882.

Kita mengenal pi sebagai 3,14. Cara lain untuk memaknainya adalah dengan angka 22/7. Ini yang kita pilih. Bisa saja kita memilih angka-angka lain seperti 256/81, 222/71 atau lainnya. Meskipun belum menjadi kesepakatan internasional, tak ada salahnya jika kita memperingati Hari Pi pada 14 Maret. Tentu ada dasarnya dipilih tanggal tersebut. Fakta bahwa pi adalah 3,14 menjadikan kita memilih tanggal 14 bulan 3 atau 14 Maret sebagai tanggal kelahiran pi. Jika ditanya tahun berapa, entahlah. Maka marilah kita merayakannya.

Banyak cara merayakannya. Menyalakan lilin berbentuk huruf pi, kemudian meniupnya sambil menyanyikan happy pi day to you, misalnya. Lomba mewarnai dapat juga dipilih untuk lebih mendekatkan matematika kepada para siswa.

Sebuah lomba menghafal dijit pi dan pemenangnya adalah ia yang dapat menghafal paling banyak dijit pi, mungkin dapat menjadi kegiatan yang menantang dan mengasyikan. Siapapun tahu pi bukanlah 3,14 tetapi pi adalah 3,141592653589793238462643383279502884197169399937................................ Mampukah Anda menghafal 25 dijit pi dengan benar, dan siap dicatat namanya dalam Rekor MURI? Lomba ini akan menjadi tantangan menarik bagi para siswa SD dan menumbuhkan pemahaman bahwa matematika juga mengandung keindahan.

 

Membaca kembali buku karya Preston yang sangat mengasyikan berjudul Gunung Pi: Kisah-Kisah Matematika yang Asyik juga dapat dipilih untuk merayakan pi. Maju Terus Pantang Menyerah! (AP)