BEDAH BUKU ‘SANG PENYELAMAT REPUBLIK’

Rabu sore kemarin, tepatnya 15 Maret 2017 hujan yang amat deras mengguyur Purwokerto. Sejak menjelang Ashar hingga satu jam kemudian hujan belum berhenti turun, padahal PII FMIPA sudah waktunya menggelar bedah buku.

Untunglah, ditengah derasnya hujan, kedua nara sumber yang sudah menjanjikan hadir benar-benar memenuhi amanahnya. Nara sumber pertama adalah Ustadz Sriyanto, M.P.I yang juga adalah penulis buku. Nara sumber kedua adalah Ustadz Sehah, M.Si yang memberikan hasil telaahannya atas buku penulis.

 Di tengah segala keterbatasan terutama dengan sepinya audiens hanya dihadiri oleh Sekjur Matematika (Bambang Hendriya, Ph. D), Koordinator PII (Agung Prabowo, M.SI) dan tiga orang mahasiswa matematika (Lukman, Pratama dan Viqi), acara bedah buku “Sang Penyelamat Republik” tetap berlangsung. Kedua nara sumber tetap memperlihatkan antuasiasme yang tinggi sehingga para hadirin juga menyimak dengan penuh seksama.

Dalam analisisnya, Sehah M.Si yang juga adalah dosen sekaligus Sekretaris Jurusan Fisika UNSOED menyoroti peran luar biasa dari seorang Syafruddin Prawiranegara yang atas inisiatifnya sendiri (ini adalah sebuah miracle) memaklumatkan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) sesaat setelah Soekarno dan Hatta ditangkap Belanda pada agresi II, 19 Desember 1948. Sebuah pertanyaan diajukan terkait apa yang melatarbelakangi Soekarno memilih Syafruddin dan memberinya mandat untuk melanjutkan pemerintah ketika ia dan Hatta ditawan Belanda.

Dalam paparanya, Ustadz Sriyanto yang juga adalah staf akademik di Fakultas Perikanan dan Kelauatan UNSOED menjelaskan sepak terjang Syafruddin dalam berbagai bidang: ketatanegaraan, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan dakwah, serta relevansi dakwah yang dilakukan Syafruddin ditinjau dari kekninian Indonesia. Dalam pemaparannya, diungkapkan bahwa pilihan Syafruddin dengan PRRI-nya (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) merupakan bentuk antisipasinya terhadap kekuatan komunis-ateis yang semakin kuat menyusup dalam Pemerintahan Republik Indonesia, pada saat itu.

Dalam penutupnya, Agung Prabowo selaku Koordinator PII FMIPA menggarisbawahi perlunya mahasiswa MIPA menyimak hal-hal lain di luar ke-MIPA-an. Oleh karena itu, hadirnya acara bedah buku ini yang mengangkat tema sumbangsih anak negeri terhadap Ibu Pertiwi selayaknya mendapat penyimakan dari siapapun, termasuk civitas academica FMIPA UNSOED. Diharapkan, acara-acara serupa di masa depan akan mendapat simpati dari lebih banyak lagi audiens yang hadir. Maju Terus Pantang Menyerah (AP).