Kuliah Umum

Ilmu dan Teknologi Dirgantara, Remote Sensing, Atmosfer, dan Antariksa dalam Era 4.0

Dirgantara ialah ruang di atas bumi, yang terdiri atas atmosfer dan antariksa. Perbatasan antara atmosfer dan antariksa berada pada ketinggian kurang lebih 300 km di atas permukaan bumi.  Demikian definisi yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam kuliah umum di Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jenderal Soedirman pada hari Rabu, 26 Februari 2019. Kuliah umum tersebut dihadiri oleh 256 orang yang terdiri atas mahasiswa dan sivitas akademika dari Fakultas MIPA, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, dan Fakultas Pertanian.

Dalam kuliah umum itu, Prof. Djamal juga memaparkan bahwa dalam era 4.0 informasi merupakan penggerak utama revolusi industri. Dikatakan bahwa yang akan unggul adalah mereka yang menguasai menguasai informasi. Dalam hal ini Lapan memiliki peran strategis sebagai satu-satunya lembaga penyedia informasi kedirgantaraan yang diperoleh lewat pemantauan satelit dan “remote sensing” (penginderaan jarak jauh). Informasi yang dikumpulkan tersebut bermanfaat untuk berbagai keperluan dari cuaca, potensi sumber daya alam, kebencanaan, hingga pertahanan dan keamanan negara.

Beberapa sistem yang dimiliki Lapan untuk keperluan itu di antaranya Sadewa (Satellite Disaster Early Warning System) untuk pemantauan cuaca ekstrim, Semar (Sistem Embaran Maritim) yang berkaitan dengan pelayaran dan perikanan,  Srikandi (Sistem Informasi Komposisi Atmosfer Indonesia) yang terkait dengan kondisi udara, dan Santanu (Sistem Pemantau Hujan). Seluruh kegiatan Lapan dilakukan dalam kaitan dengan empat  kompetensi  yang dimiliki yakni  sains antariksa dan atmosfer, teknologi dirgantara, remote sensing, dan kajian kebijakan dirgantara.  

Selain cuaca di atmosfer, cuaca antariksa juga dapat berpengaruh terhadap cuaca di bumi dan komunikasi di bumi. Dinamika dalam cuaca antariksa dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Pada saat aktivitias matahari tinggi akan terjadi semburan partikel dari matahari yang mengakibatkan badai ionosfer. Hal itu dapat berpengaruh terhadap komunikasi radio di bumi dan mengganggu “kesehatan” satelit. Instrumen satelit yang rusak dan melayang-layang di antariksa menjadi sampah antariksa yang suatu ketika dapat jatuh di bumi. Pemantuan keberadaan sampah antariksa menjadi salah satu perhatian Lapan.

Dalam hal teknologi dirgantara, Lapan saat ini sedang mengembangkan satelit buatan sendiri yang direncanakan meluncur dalam waktu dekat. Agar mampu meluncurkan sendiri, Lapan juga mengembangkan teknologi roket.  Lapan juga mengembangkan pesawat amfibi, bekerja sema dengan PT Dirgantara Indonesia, yang dapat menjangkau daerah terpencil di negeri ini. Pesawat tanpa awak (drone) juga dikembangkan oleh Lapan untuk mengumpulkan data citra yang lebih presisi lagi. Seluruh pengembangan yang dilakukan oleh Lapan selaras dengan apa yang disebut “sustainable development goal”.